Selasa, 29 September 2015

Kisah Si Penyejuk Hati

Sebuah perjalanan panjang tentang pernikahan...

Kadang perlu sekali-sekali menengok ke belakang, bukan untuk menyesali apa yang tertinggalkan atau menangisi yang telah berlalu.
Melainkan sekedar sebagai spion, untuk mengendalikan perjalanan ke depan.

Sebuah cerita yang tak sama antara pasangan yang satu dengan pasangan yang lain.
Tapi satu yang pasti, bahwa sebuah pernikahan itu tak hanya berdua. Melibatkan dua keluarga besar yang sungguh luar biasa indahnya saat berusaha merekatkannya.
Melibatkan keturunan yang menjadi 'penyejuk hati' sejak saat berdua tahu ada 'sesuatu' yang berada di rahim, sesuatu yang kemudian tumbuh berkembang dengan keajaiban. Mungkin tak dapat terlukiskan dengan kata-kata, hadirnya dia mulai mewarnai bahkan kadang mengusik kehidupan berdua.

Dan dia si penyejuk hati itu menjadi cermin, saat tangan diangkat maka dengan tangan mungilnya  akan menirukan. Dengan segala kepolosan dan kelucuan yang dia timbulkan, mengisi setiap lekuk waktu.

Kadang dengan kesibukan berdua, si penyejuk hati tumbuh....dan membawa warna.

Hingga tiba pada sebuah kisah, si penyejuk hati itu yang harusnya semakin penuh tawa ceria tapi tumbuh dengan hampa, tanpa senyum ketulusan. Hanya kebingungan yang dia dapatkan, saat di hadapannya berdiri dua sosok yang membuat dia lahir menyuguhkan drama yang membuat tubuhnya meringkuk takut. Membuat tatap matanya tersirat berjuta tanya yang tak bisa dia jawab. Dua orang yang dipanggilnya ayah dan ibu setiap saat memperlihatkan perdebatan hingga disusul lemparan-lemparan barang. Hingga di suatu saat datanglah sang ayah membawa seorang bocah kecil dan mengenalkannya sebagai adiknya dari ibu yang lain.

Kisah itu tak berhenti sampai di situ. Tak bisa tertuliskan bagaimana si penyejuk hati melewati masa kecil hingga dewasanya. Dia bahkan berucap: "Mungkin saat itu aku seperti orang gila"

Si Penyejuk hati mealui detik - menit - jam - hari - minggu - bulan dan tahunnya dengan kesendirian. Ya sendiri, Dua orang yang membuat dia ada memilih jalan sendiri.

Rabu, 18 Maret 2015

kabut

tak perlu bercerita, aku sudah tahu
kabut itu,,,di antara pendaran itu,,,membuka semuanya
rasa simpati bisa saja hadir
tapi tertutup sudah lipatan-lipatan itu

terkoyak? mungkin saja begitu
sakit? jangan tanya lagi

tapi tertutup sudah lipatan-lipatan itu
apakah tak ada sempat?
entahlah,,,
tak ada harap?
bisa jadi

tapi dimanakah nurani bersembunyi
berbisik saja jika teriak tak mampu
pancarkan saja dari sela kabut di mata
tak perlu suara, anggukkan saja
dan aku mengerti


Rabu, 10 Desember 2014

CERBUNGKU

MATAHARI

BAGIAN 3

Pagi ini terasa ada yang berbeda dengan diriku. Sehabis sholat subuh berjamaah di mushola kos dan tadarus (tentu dalam hati) aku mencoba melakukan senam bersama Dini dan yang lain di halaman belakang. Udara pagi yang segar menjadikan setiap tulang sendiku berlomba untuk memperagakan kebolehannya.
“Gimana Nan tidurnya, sepertinya nyenyak tadi malam. Karena kulihat kamu segar banget hari ini,”sapa Widi. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Ini kan hari liburnya Nani, jadi dia bisa bebas jalan-jalan ya kan,” Riyanti ikut nimbrung,”Apalagi kelihatannya langganannya makin banyak, jadi dompetnya tambah tebal.”
Semua tertawa, aku jadi ikut tertawa. Ah bisa saja mereka menggodaku.
“O ya, Nan, hari ini kita tidak ada kegiatan di kampus. Kamu mau ikut jalan-jalan dengan kita,”ajak Dini. Sekali lagi aku mengangguk, dan memberi isyarat, kemana?
“Ke kaliurang, udaranya sejuk dan nyaman untuk menghilangkan kepenatan kita.” jawab Kartika.
Ternyata perjalanan ke Kaliurang cukup padat juga. Maklum hari libur, banyak orang yang memanfatkannya untuk piknik. Untung Kartika termasuk sopir yang cukup handal, dengan lihainya dia menggerakkan kemudi avanzanya menghindari kemacetan. Satu jam kemudian kami telah sampai di tempat parkir taman rekreasi itu. Kami berlima memasuki arena taman. Ups..hampir saja seorang anak perempuan menabrakku. Dia berlari dikejar temannya, sambil tertawa-tawa. Aku jadi teringat masa kecilku.
“Nan, yuk kita duduk di dekat air terjun itu, rasanya pasti sejuk dan segar,” ajak Dini. Aku mengikuti langkah mereka dengan masih memperhatikan anak perempuan itu. Kami duduk di batu hitam yang tertata apik di tepi kolam. Suara riak air menenangkanku setelah tadi sempat bergetar. “Nan, ada apa kok sepertinya ada yang dipikirkan,” tanya Dini. Aku mengambil notes dan penaku, aku hanya ingat masa kecilku. Tulisku sambil menunjuk ke bocah perempuan itu dengan daguku.
“O ya, kamu sewaktu kecil di mana Nan?” tanyanya.
Aku bersama kedua orangtuaku di Purworejo, kota kecil yang sejuk dan tenang. Di sana kamu dapat bermain di sawah dengan teman-temanmu sambil menghalau burung-burung. Saling berkejar-kejaran, seperti mereka.
“Wah menyenangkan sekali, kapan-kapan boleh dong aku diajak ke kotamu. Aku selama ini besar di kota, jadi penasaran gimana rasanya jalan-jalan di pematang sawah,”sambung Dini antusias.
Boleh, bulan depan kan ada libur selama tiga hari. Kalau kamu tidak sibuk nanti kita sama-sama ke rumahku.
Dini setuju, dia berjanji akan menyempatkan hari itu untuk khusus ke kampung halamanku. Aku bahagia karena aku akan bertemu ibuku yang telah lama aku tinggalkan. Tapi di sisi lain ada perasaan aneh yang selalu hadir di bagian hatiku yang lain. Perasaan yang membuat perutku tiba-tiba mual dan kepalaku pusing. Tapi tidak, aku harus melawannya. Bukankah ada Dini, sahabatku yang tentu akan membantuku. Dia sudah berjanji padaku. Kembali batinku sedikit tenang, hingga aku dapat menikmati liburanku di kaki gunung Merapi ini.

BAGIAN 4

          Hampir satu bulan aku menyiapkan diriku untuk peristiwa penting hari ini dan DUA hari yang akan datang. Ya, menyiapkan kesanggupanku untuk menjejakkan kaki di kota Purworejo yang telah menjadi saksi akan kelahiranku dan berbagai peristiwa yang menjeratku. Menjebakku, meneggelamkan aku, hingga hampir tanpa nafas aku terseok keluar dari kota itu. Motor yang dikendarai Dini tetap tenang menembus keramaian jalan Wates yang mulai kami lewati. Namun tidak demikian dengan batinku. Seakan-akan ingin berputar arah dan masuk kota Yogya lagi. Tapi tidak, pastiku. Aku akan tetap masuk dan berusaha tegar menghadapinya. Begitu pesan Dini padaku, motivasi yang selalu dia pompakan di hari-hari terakhir kemarin. Bismillah ya Rabb… ijinkan aku menghadapinya dan berikanlah kekuatan kepada diriku untuk dapat melawan keresahan ini.
            Halaman rumah masih seperti dulu, hanya pohon sawo itu lebih kelihatan semakin miring sekarang. Berapa tahun aku tak lagi duduk di bawahnya? Lima tahun memang bukan waktu sebentar batinku gamang. Dini memarkir motor tepat di bawah pohon sawo. “Yang sejuk Nan, biar tidak kepanasan motornya”, katanya,”Maklum motor lama, harus ekstra merawatnya agar awet.” Aku mengiyakan saja. Kami berdua berendeng memasuki teras rumah, entahlah tapi kaki ini terasa ringan saja saat melangkah. Tidak seperti yang kutakutkan sebelumnya.
            “Assalaamu’alaikum”, salam Dini cukup keras.
            “Wa’alaikum salam”, jawab sebuah suara yang menyebabkan jantungku berdegup cukup keras. Pintu terbuka, muncul seraut wajah separuh baya yang terlihat cukup letih. Beliau menatap kami satu persatu, hingga akhirnya berhenti di wajahku. “Wahyu….”, sapanya lirih,”Kaukah itu?” aku mengangguk, beliau langsung menyongsong ke arahku dan memelukku, erat sangat erat. “Oh anakku ngger suwe tenan kowe ra mulih yo nduk?”, ucapnya sambil berlinang air mata,”Apa kamu masih marah sama keluarga kamu?” Aku tak mampu menjawab, air mata ini pun turut deras mengalir. Hingga membasahi pundak yang semakin tua itu.
“Oh maaf, maaf Nak, sampai dibiarkan saja,” sapanya kepada Dini sambil mengajak bersalaman,”Kenalkan saya bibinya Wahyu, Lek Atun.” Lek Atun mengusap air mata dengan ujung kebayanya.
“Saya Dini bu, tidak pa-pa kok bu,” Jawab Dini,”Ibu kan memang lama tidak berjumpa dengan ponakan.”
“Ya, memang lima tahun Wahyu ndak pernah pulang, sampai kami semua kangen. Kami tidak dikasih alamat atau nomor telpon dimana Wahyu tinggal. Mari, mari silakan masuk Nak, maaf rumah kampung, jadi ya begini kondisinya,” kata Lek Atun sambil membenahi taplak meja yang sudah agak pudar warnanya. Aku tercekat, taplak itu adalah hasil karyaku ketika aku masih di SMK, saat guruku memberi tugas membuat sulaman tangan.
“Wahyu, ayo ajak temanmu masuk,” Lek Atun menyentuh lenganku, aku tergagap dan mengangguk. “Silakan Nak Dini, anggap rumah sendiri, rencananya nginep to di sini, tasnya dibawa masuk ke kamar Wahyu saja,” Lek Atun menatapku, “Kamarmu masih seperti dulu, ibumu selalu merapikannya setiap hari, katanya siap-siap nanti kalo kamu sewaktu-waktu pulang. Nah, beberapa hari ini aku yang merapikannya. Semoga sesuai ya dengan kesukaan kamu, “katanya lagi. Aku menatapnya dengan mata bertanya, kenapa Lek Atun yang merapikan?
“Sebaiknya kalian berdua istirahat dulu di kamar, saya buatkan teh panas biar segar. Nanti kita lanjutkan ceritanya,” jawab Lek Atun atas pandangan tanyaku. Dini menggamit tanganku,”Yuk, Nan tunjukkan aku kamarmu. Penasaran nih, gimana kamarmu,” katanya sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum, dan dengan agak canggung kuajak Dini menuju kamarku.
            Kamarku masih seperti lima tahun lalu. Sebuah dipan sederhana, sebuah meja kursi, lemari pakaian berkaca, dan rak buku yang mengisi kamar cukup luas itu. Di desa, kamar-kamar rumah memang rata-rata berukuran besar, sehingga sangat memungkinkan untuk dimasuki berbagai perabot.
“Wah, Subhanallah Nan luas bener kamarmu,” kata Dini surprise,”Ini mah dua kali kamar kita di Yogya.”
Ketukan halus di pintu menghentikan percakapan kami, lebih tepatnya komentar Dini tentang kamarku. Aku segera membukakan pintu, wajah Lek Atun muncul dengan senyum khasnya, “Tehnya sudah aku taruh dimeja makan, sebaiknya kalian minum dulu, habis itu mandi biar segar. Wahyu  pasti kangen dengan segarnya air kampung kita kan?”
Aku mengangguk dengan segenap perasaan membuncah di dadaku. Ya, benar. Aku benar-benar kangen dengan semua yang telah menyatu dengan jiwaku, yang telah membalut segala perasaan hatiku hingga aku menjadi sosok seperti ini. Sosok yang sebenarnya tak pernah aku inginkan.
Udara sore terasa lebih segar setelah kami mandi, tapi aku merasa ada yang kurang. Dimana ibu? Dari aku datang hingga aku telah beberapa jam menikmati seluruh isi rumah dan sekitarnya, aku belum bertemu dengan wanita yang di dasar hatiku, aku begitu ingin memeluknya, menciumnya, bersimpuh di kakinya, dan memohon ampunannya. Hingga apa yang ingin kutahu jawabnya, terucap dari bibir lek atun yang bergetar. “Ibumu sekarang dirawat di rumah sakit nduk, sudah satu minggu ini, kami ingin memberimu kabar, tapi kami ndak tahu kemana menghubungimu.”kata Lek Atun sambil menatapku dengan seribu makna. Aku hanya mampu terguguk di bangku panjang samping rumah, Dini menyandarkan kepalaku di bahunya.

 Duhai ibu, berapa lama aku tak menatapmu, menyentuhmu, mendengar suara merdu dan sabarmu. Air mata ini tak mampu mengurai cerita lama kita. Masih adakah kesempatanku?

TO BE CONTINUED,,,,

Minggu, 07 Desember 2014

CERBUNGKU

MATAHARI

BAGIAN II

Lepas isya aku keluar dari kamarku. Ternyata perutku sudah minta perhatian. Di ruang tamu kontrakan aku bertemu Dini. Tetangga sebelah kamarku. “Nani, makan yuk, lapar nih” ajaknya. Berdua kami menyusuri deretan kamar-kamar kontrakan di sebelah kanan ruang tamu. Sampai diujung, ternyata kursi makan sudah banyak yang menempati. Ibu kosku selain menyewakan kamar-kamar juga menyediakan kebutuhan pokok kami, aneka makanan dan minuman serta toko kecil hingga kami tak perlu susah-susah ke luar rumah,  kreatif dan cerdas. Kami berdua mengambil makanan dan memilih duduk di sudut yang agak jauh dari keramaian ruang makan ini.
“Nan, aku ingin menanyakan sesuatu tentangmu, tapi maaf sebelumnya kalau kamu tidak bersedia katakan saja. Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin bisa lebih dekat saja denganmu,”kata Dini sambil menatapku dengan penuh perhatian. Aku balik menatapnya. Aku menganguk. Dini menghela napas lega. “Ok, tapi mungkin sebaiknya kita selesaikan dulu makan kita. Lebih leluasa ngobrol di kamarku saja, iya kan?” Sekali lagi aku mengangguk.
Kamar Dini rapi, walaupun juga sempit seperti kamarku. Ukuran 2 x 3 meter persegi tentu tidak banyak menjanjikan kenyamanan bagi penghuninya. Tapi tidak dengan kamar ini. Sprei biru muda yang bernuansa laut serasi dengan hordyn jendelanya. Karpet dari susunan puzzle bertema bunga cukup mengesankan dia seorang yang romantis. Ternyata disela kesibukan Dini sebagai aktivis kampus, dia tetap memperhatikan privacinya. “Nah Nan silakan duduk. Pilih mana yang kamu merasa enjoy,”katanya. Aku memilih duduk di karpet sambil menyandarkan kepalaku ke tempat tidur. Dini menyodorkan kertas dan pena kepadaku, “OK, kita mulai dari mana ya…hmm gini aja di sela-sela pekerjaanmu di salon apa saja kegiatanmu?”
Aku biasanya menulis, membaca buku atau jalan-jalan, tulisku. “Menulis tentang apa?”
Tentang apa saja, biasanya tentang sesuatu yang baru aku dapatkan atau pikirkan. “Pernah dikirim ke media?” Aku tidak punya bakat menulis bagus, itu hanya tulisan untuk mengisi waktu saja kok. “Tapi bisa jadi lo, tulisan kamu bagus dan layak dimuat di suatu media, kan jadi penulis terkenal?”Dini tertawa menggodaku. Ah, aku tidak punya cita-cita jadi penulis. Aku sudah cukup bahagia dengan pekerjanku sekarang. “Eh kamu juga boleh tanya lo tentang aku, biar nggak seperti polisi menginterogasi tahanan.” Kami tertawa.
Tahu tidak, malam ini aku bahagia. Ternyata kamu teman yang baik. Bagaimana kamu mengatur waktumu, sehingga masih bisa menata kamarmu dengan cantik. Padahal kamu kan sibuk, tulisku.  “Ah bisa saja kamu Nan, aku tidak sibuk banget kok. Semua kegiatanku kan aku yang mengagendakan, jadi aku juga harus meluangkan waktuku untuk pribadiku.” Kamu hebat Din, kamu pasti bahagia dengan keadaanmu sekarang ini. “Kenapa tidak, Allah telah memberi banyak kepadaku untuk aku syukuri, iya kan?”ucapnya,”kamu sendiri gimana Nan, kamu bahagia juga to?”
            Aku tidak segera menulis, tanganku tiba-tiba saja bergetar. Dini mengenggam tanganku, “Maafkan aku Nan, aku salah ya.” Aku menggeleng lalu dengan cepat kugerakkan pena. Tidak Din, justru aku terharu ternyata masih ada teman yang menanyakan tentang kebahagiaan kepadaku. Tentu Din, aku ingin bahagia.
“Ingin, berarti kebahagiaan itu belum sempurna kamu rasakan kan Nan?” tanyanya hati-hati. Aku mengangguk. Kamu tahu kan Din, kekuranganku. Aku tidak seperti kamu, sempurna. Bisa mengungkapkan apa saja yang ingin kau sampaikan.
“Tapi kenapa Nan, kenapa kamu tidak bisa. Kamu kan bisa mendengar dengan sempurna berarti kamu juga bisa…. Maaf, aku…”, Dini terdiam. Kami saling diam cukup lama hingga aku sodorkan kertas kepadanya.
Aku mengerti maksudmu Din, aku dulu juga bisa bicara seperti yang lainnya. Dini terlengak menatapku. Aku melanjutkan menulis, maaf Din tapi sekarang sudah larut malam. Kamu butuh istirahat jadi pembicaraan ini kita sudahi dulu ya. Mungkin lain waktu bisa kita lanjutkan lagi. Kita masih bisa ngobrol lagi kan, walau dengan cara yang berbeda.
“Tentu, tentu kita bisa ngobrol lagi. Aku senang kamu mau menerimaku sebagai teman. Ok, selamat malam Nin, semoga mimpi indah,”jawabnya. Sambil mengantarku sampai depan pintu.
Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur. Mataku menerawang, ya Allah apa yang terjadi denganku. Kubuka mulutku, kucoba keluarkan suara. Ugh…ugh….mataku berlinang. Ya Allahhu Rabbi…
Ketukan pelan dipintu, membuatku terjaga. “Assalaamu’alaikum, maaf sudah jam tiga, kita dirikan tahajud yuk.”  Aku batuk sebagai tanda aku sudah bangun.

Kamis, 04 Desember 2014

CERBUNGKU

MATAHARI

Bagian I
Matahari belumlah tinggi saat aku dengan ogah-ogahan melangkahkan kaki keluar. Heem.. udara cukup segar pagi ini. Tapi  entahlah mengapa tidak sesegar itu hatiku saat ini. Akhirnya dengan lega kunaiki mikrolet yang biasa menjemputku diwaktu-waktu biasanya.
“Pagi mbak,”sapa seorang ibu yang juga langganan mikrolet ini. Aku tersenyum dan mengangguk. Bagi kami, semua adalah saudara saat seperjalanan seperti ini. Seperempat jam kemudian tempat yang kutuju terlihat. Kupencet bel dibagian atas tempat dudukku. Kembali aku lemparkan senyum pada ibu yang menyapaku, juga semua penumpang, memberi uang pada pak sopir kemudian turun dengan tergesa. Jam kerjaku harus segera dimulai.
Kios yang aku sewa tidaklah besar, namun cukup bagiku untuk melayani para pelanggan. Sebagian besar mereka ingin rambutnya diubah dengan model rambut terkini. Ada juga yang melakukan perawatan rambut secara rutin. Sehingga aku cukup senang dengan memastikan kehadiran mereka di waktu-waktu tertentu.
Bu Joko adalah salah satu pelangganku yang setia. Pagi ini beliau pelanggan pertama yang datang. Beliau sudah hampir lima tahun mempercayakan tatanan rambutnya kepadaku. Ya, sejak berdirinya kiosku.
“Waduh jeng Nani, rambutku sudah sebulan tidak ketemu tangan Jeng jadi seperti memedi sawah nih”, ucapnya dengan tertawa. Aku tersenyum dan segera kuambil peralatan kerjaku. Seperti biasanya, Bu Joko bercerita banyak tentang rumah tangganya. Bahkan bagiku terlalu banyak. Hingga aku merasa jengah untuk terus mendengarnya. Tapi sepertinya beliau tidak memahami hatiku. Beliau terus bercerita, mulai dari tingkah laku anak-anaknya (ini hampir setiap bulan dia cerita) hingga suaminya. Bagian terakhir inilah yang membuatku tidak begitu sreg. Bagaimana tidak, Bu Joko menceritakan bagaimana suaminya mencoba menghianatinya dengan membuat dapur baru. Begitu beliau mengistilahkan.
“Siapa yang tidak marah coba Jeng, kurang apa saya. Saya sudah berusaha menjadi istri yang baik di rumah. Segala tetek bengek rumah tangga sudah saya buat sesempurna mungkin, hingga ibarat berlian selalu digosok setiap hari. Tapi kok ya masih kurang” keluhnya.

Aku menepuk pundaknya sebagai tanda aku turut bersimpati. Tak sengaja kutatap wajah Bu Joko dari cermin didepan kami. Wajahnya keibuan, bentuk oval dengan lesung pipit di kedua pipinya. Dan akan terlihat semakin jelas saat tersenyum atau tertawa. Tapi aku kaget, lesung pipit itu memang beberapa bulan ini hampir hilang.
Di sentuhan terakhirku pada rambutnya, Bu Joko berucap,”Ya gimana lagi Jeng, aku ini tetaplah perempuan. Menjaga keutuhan keluarga itu yang paling penting. Bukankah begitu?” pertanyaan itu seolah hanya untuk dirinya sendiri. Karena memang aku tidak mungkin menjawabnya.
            Begitulah, hari-hariku senantiasa dihiasi dengan cerita-cerita para pelangganku. Ada cerita sedih seperti bu Joko, tapi banyak juga cerita menyenangkan seperti yang diceritakan mbak Maya sore ini sebelum kututup kiosku. Karena memang dia pelanggan terakhirku untuk hari ini.
“Lihat dik Nani,”ujarnya sambil memperlihatkan cincin berlian mungil yang melingkar indah dijari manisnya. “Tahu tidak, ini cincin pernikahanku, bagus kan?” aku ucapkan selamat padanya dengan menjabat tangannya dan mencium kedua pipinya. Matanya berbinar tanda suka cita. “Doakan aku ya, semoga aku menjadi istri yang sholihah bagi suami dan keluargaku. Maaf lo, dik Nani tidak aku undang. Karena pesta pernikahannya di rumah suamiku, Pamekasan.  Jadi aku pikir nanti malah meropatkan dik Nani, kan jauh dari Yogya.” Aku mengangguk, mengiyakan. Bagiku juga tempat itu terlalu asing, Dan mungkin memang malah meropatkanku harus mencarinya. “O ya, kapan nih dik Nani menyusul,” selorohnya, “Segera lo dik, kan menggenapkan separuh dari agama kita, ya to.” Aku tertawa, aku tidak tahu bagaimana menyikapi pertanyaan itu. Jadi aku pikir dengan memberi tawa, cukuplah bagi mbak Maya untuk mengerti. Dan dia memang sepertinya mengerti atau pura-pura mengerti. Tapi memang pembicaran ini harus selesai karena rambut mbak Maya sudah rapi dan siap memakai jilabnya. Hampir menjelang maghrib ketika akhirnya kukunci pintu kios beberapa menit setelah kepergian mbak Maya yang sebelumnya dia sempat mengucapkan selamat berakhir pekan. Ya, besok hari minggu dan itu berarti aku bisa menikmati hari bebasku dari rutinitas di kios. Alhamdulillah mikrolet tepat berhenti di depan kios hingga aku tidak perlu menunggunya terlalu lama.
To be continue,,,,
Pembelajar

Setiap hal yang baru, bagaikan oase yang menjadi magnet

Rabu, 10 September 2014