CERBUNGKU
BAGIAN II
MATAHARI
BAGIAN II
Lepas isya aku
keluar dari kamarku. Ternyata perutku sudah minta perhatian. Di ruang tamu
kontrakan aku bertemu Dini. Tetangga sebelah kamarku. “Nani, makan yuk, lapar
nih” ajaknya. Berdua kami menyusuri deretan kamar-kamar kontrakan di sebelah
kanan ruang tamu. Sampai diujung, ternyata kursi makan sudah banyak yang
menempati. Ibu kosku selain menyewakan kamar-kamar juga menyediakan kebutuhan
pokok kami, aneka makanan dan minuman serta toko kecil hingga kami tak perlu
susah-susah ke luar rumah, kreatif dan
cerdas. Kami berdua mengambil makanan dan memilih duduk di sudut yang agak jauh
dari keramaian ruang makan ini.
“Nan, aku ingin
menanyakan sesuatu tentangmu, tapi maaf sebelumnya kalau kamu tidak bersedia
katakan saja. Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin bisa lebih dekat saja
denganmu,”kata Dini sambil menatapku dengan penuh perhatian. Aku balik
menatapnya. Aku menganguk. Dini menghela napas lega. “Ok, tapi mungkin
sebaiknya kita selesaikan dulu makan kita. Lebih leluasa ngobrol di kamarku
saja, iya kan?” Sekali lagi aku mengangguk.
Kamar
Dini rapi, walaupun juga sempit seperti kamarku. Ukuran 2 x 3 meter persegi
tentu tidak banyak menjanjikan kenyamanan bagi penghuninya. Tapi tidak dengan kamar
ini. Sprei biru muda yang bernuansa laut serasi dengan hordyn jendelanya.
Karpet dari susunan puzzle bertema bunga cukup mengesankan dia seorang yang
romantis. Ternyata disela kesibukan Dini sebagai aktivis kampus, dia tetap
memperhatikan privacinya. “Nah Nan
silakan duduk. Pilih mana yang kamu merasa enjoy,”katanya.
Aku memilih duduk di karpet sambil menyandarkan kepalaku ke tempat tidur. Dini
menyodorkan kertas dan pena kepadaku, “OK, kita mulai dari mana ya…hmm gini aja
di sela-sela pekerjaanmu di salon apa saja kegiatanmu?”
Aku biasanya
menulis, membaca buku atau jalan-jalan, tulisku. “Menulis tentang apa?”
Tentang apa
saja, biasanya tentang sesuatu yang baru aku dapatkan atau pikirkan. “Pernah
dikirim ke media?” Aku tidak punya bakat menulis bagus, itu hanya tulisan untuk
mengisi waktu saja kok. “Tapi bisa jadi lo, tulisan kamu bagus dan layak dimuat
di suatu media, kan jadi penulis terkenal?”Dini tertawa menggodaku. Ah, aku
tidak punya cita-cita jadi penulis. Aku sudah cukup bahagia dengan pekerjanku
sekarang. “Eh kamu juga boleh tanya lo tentang aku, biar nggak seperti polisi
menginterogasi tahanan.” Kami tertawa.
Tahu tidak, malam
ini aku bahagia. Ternyata kamu teman yang baik. Bagaimana kamu mengatur
waktumu, sehingga masih bisa menata kamarmu dengan cantik. Padahal kamu kan
sibuk, tulisku. “Ah bisa saja kamu Nan,
aku tidak sibuk banget kok. Semua kegiatanku kan aku yang mengagendakan, jadi
aku juga harus meluangkan waktuku untuk pribadiku.” Kamu hebat Din, kamu pasti
bahagia dengan keadaanmu sekarang ini. “Kenapa tidak, Allah telah memberi
banyak kepadaku untuk aku syukuri, iya kan?”ucapnya,”kamu sendiri gimana Nan,
kamu bahagia juga to?”
Aku tidak segera menulis, tanganku tiba-tiba
saja bergetar. Dini mengenggam tanganku, “Maafkan aku Nan, aku salah ya.” Aku
menggeleng lalu dengan cepat kugerakkan pena. Tidak Din, justru aku terharu
ternyata masih ada teman yang menanyakan tentang kebahagiaan kepadaku. Tentu
Din, aku ingin bahagia.
“Ingin, berarti
kebahagiaan itu belum sempurna kamu rasakan kan Nan?” tanyanya hati-hati. Aku
mengangguk. Kamu tahu kan Din, kekuranganku. Aku tidak seperti kamu, sempurna.
Bisa mengungkapkan apa saja yang ingin kau sampaikan.
“Tapi kenapa
Nan, kenapa kamu tidak bisa. Kamu kan bisa mendengar dengan sempurna berarti
kamu juga bisa…. Maaf, aku…”, Dini terdiam. Kami saling diam cukup lama hingga
aku sodorkan kertas kepadanya.
Aku mengerti
maksudmu Din, aku dulu juga bisa bicara seperti yang lainnya. Dini terlengak
menatapku. Aku melanjutkan menulis, maaf Din tapi sekarang sudah larut malam.
Kamu butuh istirahat jadi pembicaraan ini kita sudahi dulu ya. Mungkin lain
waktu bisa kita lanjutkan lagi. Kita masih bisa ngobrol lagi kan, walau dengan
cara yang berbeda.
“Tentu, tentu kita
bisa ngobrol lagi. Aku senang kamu mau menerimaku sebagai teman. Ok, selamat
malam Nin, semoga mimpi indah,”jawabnya. Sambil mengantarku sampai depan pintu.
Kurebahkan
tubuhku ke tempat tidur. Mataku menerawang, ya Allah apa yang terjadi denganku.
Kubuka mulutku, kucoba keluarkan suara. Ugh…ugh….mataku berlinang. Ya Allahhu
Rabbi…
Ketukan pelan
dipintu, membuatku terjaga. “Assalaamu’alaikum, maaf sudah jam tiga, kita
dirikan tahajud yuk.” Aku batuk sebagai
tanda aku sudah bangun.
#mengikuti langkah imajinasi Bu Kendah dan terhanyut.
BalasHapus