Minggu, 07 Desember 2014

CERBUNGKU

MATAHARI

BAGIAN II

Lepas isya aku keluar dari kamarku. Ternyata perutku sudah minta perhatian. Di ruang tamu kontrakan aku bertemu Dini. Tetangga sebelah kamarku. “Nani, makan yuk, lapar nih” ajaknya. Berdua kami menyusuri deretan kamar-kamar kontrakan di sebelah kanan ruang tamu. Sampai diujung, ternyata kursi makan sudah banyak yang menempati. Ibu kosku selain menyewakan kamar-kamar juga menyediakan kebutuhan pokok kami, aneka makanan dan minuman serta toko kecil hingga kami tak perlu susah-susah ke luar rumah,  kreatif dan cerdas. Kami berdua mengambil makanan dan memilih duduk di sudut yang agak jauh dari keramaian ruang makan ini.
“Nan, aku ingin menanyakan sesuatu tentangmu, tapi maaf sebelumnya kalau kamu tidak bersedia katakan saja. Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin bisa lebih dekat saja denganmu,”kata Dini sambil menatapku dengan penuh perhatian. Aku balik menatapnya. Aku menganguk. Dini menghela napas lega. “Ok, tapi mungkin sebaiknya kita selesaikan dulu makan kita. Lebih leluasa ngobrol di kamarku saja, iya kan?” Sekali lagi aku mengangguk.
Kamar Dini rapi, walaupun juga sempit seperti kamarku. Ukuran 2 x 3 meter persegi tentu tidak banyak menjanjikan kenyamanan bagi penghuninya. Tapi tidak dengan kamar ini. Sprei biru muda yang bernuansa laut serasi dengan hordyn jendelanya. Karpet dari susunan puzzle bertema bunga cukup mengesankan dia seorang yang romantis. Ternyata disela kesibukan Dini sebagai aktivis kampus, dia tetap memperhatikan privacinya. “Nah Nan silakan duduk. Pilih mana yang kamu merasa enjoy,”katanya. Aku memilih duduk di karpet sambil menyandarkan kepalaku ke tempat tidur. Dini menyodorkan kertas dan pena kepadaku, “OK, kita mulai dari mana ya…hmm gini aja di sela-sela pekerjaanmu di salon apa saja kegiatanmu?”
Aku biasanya menulis, membaca buku atau jalan-jalan, tulisku. “Menulis tentang apa?”
Tentang apa saja, biasanya tentang sesuatu yang baru aku dapatkan atau pikirkan. “Pernah dikirim ke media?” Aku tidak punya bakat menulis bagus, itu hanya tulisan untuk mengisi waktu saja kok. “Tapi bisa jadi lo, tulisan kamu bagus dan layak dimuat di suatu media, kan jadi penulis terkenal?”Dini tertawa menggodaku. Ah, aku tidak punya cita-cita jadi penulis. Aku sudah cukup bahagia dengan pekerjanku sekarang. “Eh kamu juga boleh tanya lo tentang aku, biar nggak seperti polisi menginterogasi tahanan.” Kami tertawa.
Tahu tidak, malam ini aku bahagia. Ternyata kamu teman yang baik. Bagaimana kamu mengatur waktumu, sehingga masih bisa menata kamarmu dengan cantik. Padahal kamu kan sibuk, tulisku.  “Ah bisa saja kamu Nan, aku tidak sibuk banget kok. Semua kegiatanku kan aku yang mengagendakan, jadi aku juga harus meluangkan waktuku untuk pribadiku.” Kamu hebat Din, kamu pasti bahagia dengan keadaanmu sekarang ini. “Kenapa tidak, Allah telah memberi banyak kepadaku untuk aku syukuri, iya kan?”ucapnya,”kamu sendiri gimana Nan, kamu bahagia juga to?”
            Aku tidak segera menulis, tanganku tiba-tiba saja bergetar. Dini mengenggam tanganku, “Maafkan aku Nan, aku salah ya.” Aku menggeleng lalu dengan cepat kugerakkan pena. Tidak Din, justru aku terharu ternyata masih ada teman yang menanyakan tentang kebahagiaan kepadaku. Tentu Din, aku ingin bahagia.
“Ingin, berarti kebahagiaan itu belum sempurna kamu rasakan kan Nan?” tanyanya hati-hati. Aku mengangguk. Kamu tahu kan Din, kekuranganku. Aku tidak seperti kamu, sempurna. Bisa mengungkapkan apa saja yang ingin kau sampaikan.
“Tapi kenapa Nan, kenapa kamu tidak bisa. Kamu kan bisa mendengar dengan sempurna berarti kamu juga bisa…. Maaf, aku…”, Dini terdiam. Kami saling diam cukup lama hingga aku sodorkan kertas kepadanya.
Aku mengerti maksudmu Din, aku dulu juga bisa bicara seperti yang lainnya. Dini terlengak menatapku. Aku melanjutkan menulis, maaf Din tapi sekarang sudah larut malam. Kamu butuh istirahat jadi pembicaraan ini kita sudahi dulu ya. Mungkin lain waktu bisa kita lanjutkan lagi. Kita masih bisa ngobrol lagi kan, walau dengan cara yang berbeda.
“Tentu, tentu kita bisa ngobrol lagi. Aku senang kamu mau menerimaku sebagai teman. Ok, selamat malam Nin, semoga mimpi indah,”jawabnya. Sambil mengantarku sampai depan pintu.
Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur. Mataku menerawang, ya Allah apa yang terjadi denganku. Kubuka mulutku, kucoba keluarkan suara. Ugh…ugh….mataku berlinang. Ya Allahhu Rabbi…
Ketukan pelan dipintu, membuatku terjaga. “Assalaamu’alaikum, maaf sudah jam tiga, kita dirikan tahajud yuk.”  Aku batuk sebagai tanda aku sudah bangun.

1 komentar: