CERBUNGKU
BAGIAN 3
TO BE CONTINUED,,,,
MATAHARI
BAGIAN 3
Pagi
ini terasa ada yang berbeda dengan diriku. Sehabis sholat subuh berjamaah di
mushola kos dan tadarus (tentu dalam hati) aku mencoba melakukan senam bersama
Dini dan yang lain di halaman belakang. Udara pagi yang segar menjadikan setiap
tulang sendiku berlomba untuk memperagakan kebolehannya.
“Gimana
Nan tidurnya, sepertinya nyenyak tadi malam. Karena kulihat kamu segar banget
hari ini,”sapa Widi. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Ini
kan hari liburnya Nani, jadi dia bisa bebas jalan-jalan ya kan,” Riyanti ikut
nimbrung,”Apalagi kelihatannya langganannya makin banyak, jadi dompetnya tambah
tebal.”
Semua
tertawa, aku jadi ikut tertawa. Ah bisa saja mereka menggodaku.
“O
ya, Nan, hari ini kita tidak ada kegiatan di kampus. Kamu mau ikut jalan-jalan
dengan kita,”ajak Dini. Sekali lagi aku mengangguk, dan memberi isyarat,
kemana?
“Ke
kaliurang, udaranya sejuk dan nyaman untuk menghilangkan kepenatan kita.” jawab
Kartika.
Ternyata
perjalanan ke Kaliurang cukup padat juga. Maklum hari libur, banyak orang yang
memanfatkannya untuk piknik. Untung Kartika termasuk sopir yang cukup handal,
dengan lihainya dia menggerakkan kemudi avanzanya menghindari kemacetan. Satu
jam kemudian kami telah sampai di tempat parkir taman rekreasi itu. Kami
berlima memasuki arena taman. Ups..hampir saja seorang anak perempuan
menabrakku. Dia berlari dikejar temannya, sambil tertawa-tawa. Aku jadi
teringat masa kecilku.
“Nan,
yuk kita duduk di dekat air terjun itu, rasanya pasti sejuk dan segar,” ajak
Dini. Aku mengikuti langkah mereka dengan masih memperhatikan anak perempuan
itu. Kami duduk di batu hitam yang tertata apik di tepi kolam. Suara riak air
menenangkanku setelah tadi sempat bergetar. “Nan, ada apa kok sepertinya ada
yang dipikirkan,” tanya Dini. Aku mengambil notes dan penaku, aku hanya ingat
masa kecilku. Tulisku sambil menunjuk ke bocah perempuan itu dengan daguku.
“O
ya, kamu sewaktu kecil di mana Nan?” tanyanya.
Aku
bersama kedua orangtuaku di Purworejo, kota kecil yang sejuk dan tenang. Di
sana kamu dapat bermain di sawah dengan teman-temanmu sambil menghalau
burung-burung. Saling berkejar-kejaran, seperti mereka.
“Wah
menyenangkan sekali, kapan-kapan boleh dong aku diajak ke kotamu. Aku selama
ini besar di kota, jadi penasaran gimana rasanya jalan-jalan di pematang
sawah,”sambung Dini antusias.
Boleh,
bulan depan kan ada libur selama tiga hari. Kalau kamu tidak sibuk nanti kita
sama-sama ke rumahku.
Dini
setuju, dia berjanji akan menyempatkan hari itu untuk khusus ke kampung
halamanku. Aku bahagia karena aku akan bertemu ibuku yang telah lama aku
tinggalkan. Tapi di sisi lain ada perasaan aneh yang selalu hadir di bagian
hatiku yang lain. Perasaan yang membuat perutku tiba-tiba mual dan kepalaku
pusing. Tapi tidak, aku harus melawannya. Bukankah ada Dini, sahabatku yang
tentu akan membantuku. Dia sudah berjanji padaku. Kembali batinku sedikit
tenang, hingga aku dapat menikmati liburanku di kaki gunung Merapi ini.
BAGIAN 4
Hampir satu
bulan aku menyiapkan diriku untuk peristiwa penting hari ini dan DUA hari yang
akan datang. Ya, menyiapkan kesanggupanku untuk menjejakkan kaki di kota Purworejo
yang telah menjadi saksi akan kelahiranku dan berbagai peristiwa yang
menjeratku. Menjebakku, meneggelamkan aku, hingga hampir tanpa nafas aku
terseok keluar dari kota itu. Motor yang dikendarai Dini tetap tenang menembus
keramaian jalan Wates yang mulai kami lewati. Namun tidak demikian dengan
batinku. Seakan-akan ingin berputar arah dan masuk kota Yogya lagi. Tapi tidak,
pastiku. Aku akan tetap masuk dan berusaha tegar menghadapinya. Begitu pesan
Dini padaku, motivasi yang selalu dia pompakan di hari-hari terakhir kemarin.
Bismillah ya Rabb… ijinkan aku menghadapinya dan berikanlah kekuatan kepada
diriku untuk dapat melawan keresahan ini.
Halaman rumah masih seperti dulu,
hanya pohon sawo itu lebih kelihatan semakin miring sekarang. Berapa tahun aku
tak lagi duduk di bawahnya? Lima tahun memang bukan waktu sebentar batinku
gamang. Dini memarkir motor tepat di bawah pohon sawo. “Yang sejuk Nan, biar
tidak kepanasan motornya”, katanya,”Maklum motor lama, harus ekstra merawatnya
agar awet.” Aku mengiyakan saja. Kami berdua berendeng memasuki teras rumah,
entahlah tapi kaki ini terasa ringan saja saat melangkah. Tidak seperti yang
kutakutkan sebelumnya.
“Assalaamu’alaikum”, salam Dini
cukup keras.
“Wa’alaikum salam”, jawab sebuah
suara yang menyebabkan jantungku berdegup cukup keras. Pintu terbuka, muncul
seraut wajah separuh baya yang terlihat cukup letih. Beliau menatap kami satu
persatu, hingga akhirnya berhenti di wajahku. “Wahyu….”, sapanya lirih,”Kaukah
itu?” aku mengangguk, beliau langsung menyongsong ke arahku dan memelukku, erat
sangat erat. “Oh anakku ngger suwe tenan
kowe ra mulih yo nduk?”, ucapnya sambil berlinang air mata,”Apa kamu masih
marah sama keluarga kamu?” Aku tak mampu menjawab, air mata ini pun turut deras
mengalir. Hingga membasahi pundak yang semakin tua itu.
“Oh maaf, maaf
Nak, sampai dibiarkan saja,” sapanya kepada Dini sambil mengajak
bersalaman,”Kenalkan saya bibinya Wahyu, Lek Atun.” Lek Atun mengusap air mata
dengan ujung kebayanya.
“Saya Dini bu,
tidak pa-pa kok bu,” Jawab Dini,”Ibu kan memang lama tidak berjumpa dengan
ponakan.”
“Ya, memang lima
tahun Wahyu ndak pernah pulang, sampai kami semua kangen. Kami tidak dikasih
alamat atau nomor telpon dimana Wahyu tinggal. Mari, mari silakan masuk Nak,
maaf rumah kampung, jadi ya begini kondisinya,” kata Lek Atun sambil membenahi
taplak meja yang sudah agak pudar warnanya. Aku tercekat, taplak itu adalah
hasil karyaku ketika aku masih di SMK, saat guruku memberi tugas membuat
sulaman tangan.
“Wahyu, ayo ajak
temanmu masuk,” Lek Atun menyentuh lenganku, aku tergagap dan mengangguk.
“Silakan Nak Dini, anggap rumah sendiri, rencananya nginep to di sini, tasnya
dibawa masuk ke kamar Wahyu saja,” Lek Atun menatapku, “Kamarmu masih seperti
dulu, ibumu selalu merapikannya setiap hari, katanya siap-siap nanti kalo kamu
sewaktu-waktu pulang. Nah, beberapa hari ini aku yang merapikannya. Semoga
sesuai ya dengan kesukaan kamu, “katanya lagi. Aku menatapnya dengan mata
bertanya, kenapa Lek Atun yang merapikan?
“Sebaiknya
kalian berdua istirahat dulu di kamar, saya buatkan teh panas biar segar. Nanti
kita lanjutkan ceritanya,” jawab Lek Atun atas pandangan tanyaku. Dini
menggamit tanganku,”Yuk, Nan tunjukkan aku kamarmu. Penasaran nih, gimana
kamarmu,” katanya sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum, dan dengan agak
canggung kuajak Dini menuju kamarku.
Kamarku masih seperti lima tahun
lalu. Sebuah dipan sederhana, sebuah meja kursi, lemari pakaian berkaca, dan
rak buku yang mengisi kamar cukup luas itu. Di desa, kamar-kamar rumah memang
rata-rata berukuran besar, sehingga sangat memungkinkan untuk dimasuki berbagai
perabot.
“Wah,
Subhanallah Nan luas bener kamarmu,” kata Dini surprise,”Ini mah dua kali kamar kita di Yogya.”
Ketukan halus di
pintu menghentikan percakapan kami, lebih tepatnya komentar Dini tentang
kamarku. Aku segera membukakan pintu, wajah Lek Atun muncul dengan senyum
khasnya, “Tehnya sudah aku taruh dimeja makan, sebaiknya kalian minum dulu,
habis itu mandi biar segar. Wahyu pasti
kangen dengan segarnya air kampung kita kan?”
Aku mengangguk
dengan segenap perasaan membuncah di dadaku. Ya, benar. Aku benar-benar kangen
dengan semua yang telah menyatu dengan jiwaku, yang telah membalut segala
perasaan hatiku hingga aku menjadi sosok seperti ini. Sosok yang sebenarnya tak
pernah aku inginkan.
Udara
sore terasa lebih segar setelah kami mandi, tapi aku merasa ada yang kurang.
Dimana ibu? Dari aku datang hingga aku telah beberapa jam menikmati seluruh isi
rumah dan sekitarnya, aku belum bertemu dengan wanita yang di dasar hatiku, aku
begitu ingin memeluknya, menciumnya, bersimpuh di kakinya, dan memohon ampunannya.
Hingga apa yang ingin kutahu jawabnya, terucap dari bibir lek atun yang
bergetar. “Ibumu sekarang dirawat di rumah sakit nduk, sudah satu minggu ini,
kami ingin memberimu kabar, tapi kami ndak tahu kemana menghubungimu.”kata Lek
Atun sambil menatapku dengan seribu makna. Aku hanya mampu terguguk di bangku
panjang samping rumah, Dini menyandarkan kepalaku di bahunya.
Duhai ibu, berapa lama aku tak menatapmu,
menyentuhmu, mendengar suara merdu dan sabarmu. Air mata ini tak mampu mengurai
cerita lama kita. Masih adakah kesempatanku?
TO BE CONTINUED,,,,