Kamis, 04 Desember 2014

CERBUNGKU

MATAHARI

Bagian I
Matahari belumlah tinggi saat aku dengan ogah-ogahan melangkahkan kaki keluar. Heem.. udara cukup segar pagi ini. Tapi  entahlah mengapa tidak sesegar itu hatiku saat ini. Akhirnya dengan lega kunaiki mikrolet yang biasa menjemputku diwaktu-waktu biasanya.
“Pagi mbak,”sapa seorang ibu yang juga langganan mikrolet ini. Aku tersenyum dan mengangguk. Bagi kami, semua adalah saudara saat seperjalanan seperti ini. Seperempat jam kemudian tempat yang kutuju terlihat. Kupencet bel dibagian atas tempat dudukku. Kembali aku lemparkan senyum pada ibu yang menyapaku, juga semua penumpang, memberi uang pada pak sopir kemudian turun dengan tergesa. Jam kerjaku harus segera dimulai.
Kios yang aku sewa tidaklah besar, namun cukup bagiku untuk melayani para pelanggan. Sebagian besar mereka ingin rambutnya diubah dengan model rambut terkini. Ada juga yang melakukan perawatan rambut secara rutin. Sehingga aku cukup senang dengan memastikan kehadiran mereka di waktu-waktu tertentu.
Bu Joko adalah salah satu pelangganku yang setia. Pagi ini beliau pelanggan pertama yang datang. Beliau sudah hampir lima tahun mempercayakan tatanan rambutnya kepadaku. Ya, sejak berdirinya kiosku.
“Waduh jeng Nani, rambutku sudah sebulan tidak ketemu tangan Jeng jadi seperti memedi sawah nih”, ucapnya dengan tertawa. Aku tersenyum dan segera kuambil peralatan kerjaku. Seperti biasanya, Bu Joko bercerita banyak tentang rumah tangganya. Bahkan bagiku terlalu banyak. Hingga aku merasa jengah untuk terus mendengarnya. Tapi sepertinya beliau tidak memahami hatiku. Beliau terus bercerita, mulai dari tingkah laku anak-anaknya (ini hampir setiap bulan dia cerita) hingga suaminya. Bagian terakhir inilah yang membuatku tidak begitu sreg. Bagaimana tidak, Bu Joko menceritakan bagaimana suaminya mencoba menghianatinya dengan membuat dapur baru. Begitu beliau mengistilahkan.
“Siapa yang tidak marah coba Jeng, kurang apa saya. Saya sudah berusaha menjadi istri yang baik di rumah. Segala tetek bengek rumah tangga sudah saya buat sesempurna mungkin, hingga ibarat berlian selalu digosok setiap hari. Tapi kok ya masih kurang” keluhnya.

Aku menepuk pundaknya sebagai tanda aku turut bersimpati. Tak sengaja kutatap wajah Bu Joko dari cermin didepan kami. Wajahnya keibuan, bentuk oval dengan lesung pipit di kedua pipinya. Dan akan terlihat semakin jelas saat tersenyum atau tertawa. Tapi aku kaget, lesung pipit itu memang beberapa bulan ini hampir hilang.
Di sentuhan terakhirku pada rambutnya, Bu Joko berucap,”Ya gimana lagi Jeng, aku ini tetaplah perempuan. Menjaga keutuhan keluarga itu yang paling penting. Bukankah begitu?” pertanyaan itu seolah hanya untuk dirinya sendiri. Karena memang aku tidak mungkin menjawabnya.
            Begitulah, hari-hariku senantiasa dihiasi dengan cerita-cerita para pelangganku. Ada cerita sedih seperti bu Joko, tapi banyak juga cerita menyenangkan seperti yang diceritakan mbak Maya sore ini sebelum kututup kiosku. Karena memang dia pelanggan terakhirku untuk hari ini.
“Lihat dik Nani,”ujarnya sambil memperlihatkan cincin berlian mungil yang melingkar indah dijari manisnya. “Tahu tidak, ini cincin pernikahanku, bagus kan?” aku ucapkan selamat padanya dengan menjabat tangannya dan mencium kedua pipinya. Matanya berbinar tanda suka cita. “Doakan aku ya, semoga aku menjadi istri yang sholihah bagi suami dan keluargaku. Maaf lo, dik Nani tidak aku undang. Karena pesta pernikahannya di rumah suamiku, Pamekasan.  Jadi aku pikir nanti malah meropatkan dik Nani, kan jauh dari Yogya.” Aku mengangguk, mengiyakan. Bagiku juga tempat itu terlalu asing, Dan mungkin memang malah meropatkanku harus mencarinya. “O ya, kapan nih dik Nani menyusul,” selorohnya, “Segera lo dik, kan menggenapkan separuh dari agama kita, ya to.” Aku tertawa, aku tidak tahu bagaimana menyikapi pertanyaan itu. Jadi aku pikir dengan memberi tawa, cukuplah bagi mbak Maya untuk mengerti. Dan dia memang sepertinya mengerti atau pura-pura mengerti. Tapi memang pembicaran ini harus selesai karena rambut mbak Maya sudah rapi dan siap memakai jilabnya. Hampir menjelang maghrib ketika akhirnya kukunci pintu kios beberapa menit setelah kepergian mbak Maya yang sebelumnya dia sempat mengucapkan selamat berakhir pekan. Ya, besok hari minggu dan itu berarti aku bisa menikmati hari bebasku dari rutinitas di kios. Alhamdulillah mikrolet tepat berhenti di depan kios hingga aku tidak perlu menunggunya terlalu lama.
To be continue,,,,

1 komentar: