CERBUNGKU
MATAHARI
Bagian
I
Matahari
belumlah tinggi saat aku dengan ogah-ogahan melangkahkan kaki keluar. Heem..
udara cukup segar pagi ini. Tapi
entahlah mengapa tidak sesegar itu hatiku saat ini. Akhirnya dengan lega
kunaiki mikrolet yang biasa menjemputku diwaktu-waktu biasanya.
“Pagi
mbak,”sapa seorang ibu yang juga langganan mikrolet ini. Aku tersenyum dan
mengangguk. Bagi kami, semua adalah saudara saat seperjalanan seperti ini. Seperempat
jam kemudian tempat yang kutuju terlihat. Kupencet bel dibagian atas tempat dudukku.
Kembali aku lemparkan senyum pada ibu yang menyapaku, juga semua penumpang, memberi
uang pada pak sopir kemudian turun dengan tergesa. Jam kerjaku harus segera
dimulai.
Kios
yang aku sewa tidaklah besar, namun cukup bagiku untuk melayani para pelanggan.
Sebagian besar mereka ingin rambutnya diubah dengan model rambut terkini. Ada
juga yang melakukan perawatan rambut secara rutin. Sehingga aku cukup senang
dengan memastikan kehadiran mereka di waktu-waktu tertentu.
Bu
Joko adalah salah satu pelangganku yang setia. Pagi ini beliau pelanggan
pertama yang datang. Beliau sudah hampir lima tahun mempercayakan tatanan
rambutnya kepadaku. Ya, sejak berdirinya kiosku.
“Waduh jeng
Nani, rambutku sudah sebulan tidak ketemu tangan Jeng jadi seperti memedi sawah nih”, ucapnya dengan tertawa. Aku tersenyum dan segera
kuambil peralatan kerjaku. Seperti biasanya, Bu Joko bercerita banyak tentang
rumah tangganya. Bahkan bagiku terlalu banyak. Hingga aku merasa jengah untuk
terus mendengarnya. Tapi sepertinya beliau tidak memahami hatiku. Beliau terus
bercerita, mulai dari tingkah laku anak-anaknya (ini hampir setiap bulan dia
cerita) hingga suaminya. Bagian terakhir inilah yang membuatku tidak begitu sreg. Bagaimana tidak, Bu Joko
menceritakan bagaimana suaminya mencoba menghianatinya dengan membuat dapur
baru. Begitu beliau mengistilahkan.
“Siapa yang
tidak marah coba Jeng, kurang apa saya. Saya sudah berusaha menjadi istri yang
baik di rumah. Segala tetek bengek rumah tangga sudah saya buat sesempurna
mungkin, hingga ibarat berlian selalu digosok setiap hari. Tapi kok ya masih
kurang” keluhnya.
Aku menepuk
pundaknya sebagai tanda aku turut bersimpati. Tak sengaja kutatap wajah Bu Joko
dari cermin didepan kami. Wajahnya keibuan, bentuk oval dengan lesung pipit di
kedua pipinya. Dan akan terlihat semakin jelas saat tersenyum atau tertawa.
Tapi aku kaget, lesung pipit itu memang beberapa bulan ini hampir hilang.
Di sentuhan
terakhirku pada rambutnya, Bu Joko berucap,”Ya gimana lagi Jeng, aku ini
tetaplah perempuan. Menjaga keutuhan keluarga itu yang paling penting. Bukankah
begitu?” pertanyaan itu seolah hanya untuk dirinya sendiri. Karena memang aku
tidak mungkin menjawabnya.
Begitulah, hari-hariku senantiasa
dihiasi dengan cerita-cerita para pelangganku. Ada cerita sedih seperti bu
Joko, tapi banyak juga cerita menyenangkan seperti yang diceritakan mbak Maya sore
ini sebelum kututup kiosku. Karena memang dia pelanggan terakhirku untuk hari
ini.
“Lihat dik
Nani,”ujarnya sambil memperlihatkan cincin berlian mungil yang melingkar indah
dijari manisnya. “Tahu tidak, ini cincin pernikahanku, bagus kan?” aku ucapkan
selamat padanya dengan menjabat tangannya dan mencium kedua pipinya. Matanya
berbinar tanda suka cita. “Doakan aku ya, semoga aku menjadi istri yang
sholihah bagi suami dan keluargaku. Maaf lo, dik Nani tidak aku undang. Karena
pesta pernikahannya di rumah suamiku, Pamekasan. Jadi aku pikir nanti malah meropatkan dik
Nani, kan jauh dari Yogya.” Aku mengangguk, mengiyakan. Bagiku juga tempat itu
terlalu asing, Dan mungkin memang malah meropatkanku harus mencarinya. “O ya,
kapan nih dik Nani menyusul,” selorohnya, “Segera lo dik, kan menggenapkan
separuh dari agama kita, ya to.” Aku tertawa, aku tidak tahu bagaimana
menyikapi pertanyaan itu. Jadi aku pikir dengan memberi tawa, cukuplah bagi
mbak Maya untuk mengerti. Dan dia memang sepertinya mengerti atau pura-pura
mengerti. Tapi memang pembicaran ini harus selesai karena rambut mbak Maya
sudah rapi dan siap memakai jilabnya. Hampir menjelang maghrib ketika akhirnya
kukunci pintu kios beberapa menit setelah kepergian mbak Maya yang sebelumnya
dia sempat mengucapkan selamat berakhir pekan. Ya, besok hari minggu dan itu
berarti aku bisa menikmati hari bebasku dari rutinitas di kios. Alhamdulillah
mikrolet tepat berhenti di depan kios hingga aku tidak perlu menunggunya
terlalu lama.
To be continue,,,,
Bu Kendah.... sambung terus ya ceritanya... senang nih bacanya...
BalasHapus