Rabu, 10 Desember 2014

CERBUNGKU

MATAHARI

BAGIAN 3

Pagi ini terasa ada yang berbeda dengan diriku. Sehabis sholat subuh berjamaah di mushola kos dan tadarus (tentu dalam hati) aku mencoba melakukan senam bersama Dini dan yang lain di halaman belakang. Udara pagi yang segar menjadikan setiap tulang sendiku berlomba untuk memperagakan kebolehannya.
“Gimana Nan tidurnya, sepertinya nyenyak tadi malam. Karena kulihat kamu segar banget hari ini,”sapa Widi. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Ini kan hari liburnya Nani, jadi dia bisa bebas jalan-jalan ya kan,” Riyanti ikut nimbrung,”Apalagi kelihatannya langganannya makin banyak, jadi dompetnya tambah tebal.”
Semua tertawa, aku jadi ikut tertawa. Ah bisa saja mereka menggodaku.
“O ya, Nan, hari ini kita tidak ada kegiatan di kampus. Kamu mau ikut jalan-jalan dengan kita,”ajak Dini. Sekali lagi aku mengangguk, dan memberi isyarat, kemana?
“Ke kaliurang, udaranya sejuk dan nyaman untuk menghilangkan kepenatan kita.” jawab Kartika.
Ternyata perjalanan ke Kaliurang cukup padat juga. Maklum hari libur, banyak orang yang memanfatkannya untuk piknik. Untung Kartika termasuk sopir yang cukup handal, dengan lihainya dia menggerakkan kemudi avanzanya menghindari kemacetan. Satu jam kemudian kami telah sampai di tempat parkir taman rekreasi itu. Kami berlima memasuki arena taman. Ups..hampir saja seorang anak perempuan menabrakku. Dia berlari dikejar temannya, sambil tertawa-tawa. Aku jadi teringat masa kecilku.
“Nan, yuk kita duduk di dekat air terjun itu, rasanya pasti sejuk dan segar,” ajak Dini. Aku mengikuti langkah mereka dengan masih memperhatikan anak perempuan itu. Kami duduk di batu hitam yang tertata apik di tepi kolam. Suara riak air menenangkanku setelah tadi sempat bergetar. “Nan, ada apa kok sepertinya ada yang dipikirkan,” tanya Dini. Aku mengambil notes dan penaku, aku hanya ingat masa kecilku. Tulisku sambil menunjuk ke bocah perempuan itu dengan daguku.
“O ya, kamu sewaktu kecil di mana Nan?” tanyanya.
Aku bersama kedua orangtuaku di Purworejo, kota kecil yang sejuk dan tenang. Di sana kamu dapat bermain di sawah dengan teman-temanmu sambil menghalau burung-burung. Saling berkejar-kejaran, seperti mereka.
“Wah menyenangkan sekali, kapan-kapan boleh dong aku diajak ke kotamu. Aku selama ini besar di kota, jadi penasaran gimana rasanya jalan-jalan di pematang sawah,”sambung Dini antusias.
Boleh, bulan depan kan ada libur selama tiga hari. Kalau kamu tidak sibuk nanti kita sama-sama ke rumahku.
Dini setuju, dia berjanji akan menyempatkan hari itu untuk khusus ke kampung halamanku. Aku bahagia karena aku akan bertemu ibuku yang telah lama aku tinggalkan. Tapi di sisi lain ada perasaan aneh yang selalu hadir di bagian hatiku yang lain. Perasaan yang membuat perutku tiba-tiba mual dan kepalaku pusing. Tapi tidak, aku harus melawannya. Bukankah ada Dini, sahabatku yang tentu akan membantuku. Dia sudah berjanji padaku. Kembali batinku sedikit tenang, hingga aku dapat menikmati liburanku di kaki gunung Merapi ini.

BAGIAN 4

          Hampir satu bulan aku menyiapkan diriku untuk peristiwa penting hari ini dan DUA hari yang akan datang. Ya, menyiapkan kesanggupanku untuk menjejakkan kaki di kota Purworejo yang telah menjadi saksi akan kelahiranku dan berbagai peristiwa yang menjeratku. Menjebakku, meneggelamkan aku, hingga hampir tanpa nafas aku terseok keluar dari kota itu. Motor yang dikendarai Dini tetap tenang menembus keramaian jalan Wates yang mulai kami lewati. Namun tidak demikian dengan batinku. Seakan-akan ingin berputar arah dan masuk kota Yogya lagi. Tapi tidak, pastiku. Aku akan tetap masuk dan berusaha tegar menghadapinya. Begitu pesan Dini padaku, motivasi yang selalu dia pompakan di hari-hari terakhir kemarin. Bismillah ya Rabb… ijinkan aku menghadapinya dan berikanlah kekuatan kepada diriku untuk dapat melawan keresahan ini.
            Halaman rumah masih seperti dulu, hanya pohon sawo itu lebih kelihatan semakin miring sekarang. Berapa tahun aku tak lagi duduk di bawahnya? Lima tahun memang bukan waktu sebentar batinku gamang. Dini memarkir motor tepat di bawah pohon sawo. “Yang sejuk Nan, biar tidak kepanasan motornya”, katanya,”Maklum motor lama, harus ekstra merawatnya agar awet.” Aku mengiyakan saja. Kami berdua berendeng memasuki teras rumah, entahlah tapi kaki ini terasa ringan saja saat melangkah. Tidak seperti yang kutakutkan sebelumnya.
            “Assalaamu’alaikum”, salam Dini cukup keras.
            “Wa’alaikum salam”, jawab sebuah suara yang menyebabkan jantungku berdegup cukup keras. Pintu terbuka, muncul seraut wajah separuh baya yang terlihat cukup letih. Beliau menatap kami satu persatu, hingga akhirnya berhenti di wajahku. “Wahyu….”, sapanya lirih,”Kaukah itu?” aku mengangguk, beliau langsung menyongsong ke arahku dan memelukku, erat sangat erat. “Oh anakku ngger suwe tenan kowe ra mulih yo nduk?”, ucapnya sambil berlinang air mata,”Apa kamu masih marah sama keluarga kamu?” Aku tak mampu menjawab, air mata ini pun turut deras mengalir. Hingga membasahi pundak yang semakin tua itu.
“Oh maaf, maaf Nak, sampai dibiarkan saja,” sapanya kepada Dini sambil mengajak bersalaman,”Kenalkan saya bibinya Wahyu, Lek Atun.” Lek Atun mengusap air mata dengan ujung kebayanya.
“Saya Dini bu, tidak pa-pa kok bu,” Jawab Dini,”Ibu kan memang lama tidak berjumpa dengan ponakan.”
“Ya, memang lima tahun Wahyu ndak pernah pulang, sampai kami semua kangen. Kami tidak dikasih alamat atau nomor telpon dimana Wahyu tinggal. Mari, mari silakan masuk Nak, maaf rumah kampung, jadi ya begini kondisinya,” kata Lek Atun sambil membenahi taplak meja yang sudah agak pudar warnanya. Aku tercekat, taplak itu adalah hasil karyaku ketika aku masih di SMK, saat guruku memberi tugas membuat sulaman tangan.
“Wahyu, ayo ajak temanmu masuk,” Lek Atun menyentuh lenganku, aku tergagap dan mengangguk. “Silakan Nak Dini, anggap rumah sendiri, rencananya nginep to di sini, tasnya dibawa masuk ke kamar Wahyu saja,” Lek Atun menatapku, “Kamarmu masih seperti dulu, ibumu selalu merapikannya setiap hari, katanya siap-siap nanti kalo kamu sewaktu-waktu pulang. Nah, beberapa hari ini aku yang merapikannya. Semoga sesuai ya dengan kesukaan kamu, “katanya lagi. Aku menatapnya dengan mata bertanya, kenapa Lek Atun yang merapikan?
“Sebaiknya kalian berdua istirahat dulu di kamar, saya buatkan teh panas biar segar. Nanti kita lanjutkan ceritanya,” jawab Lek Atun atas pandangan tanyaku. Dini menggamit tanganku,”Yuk, Nan tunjukkan aku kamarmu. Penasaran nih, gimana kamarmu,” katanya sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum, dan dengan agak canggung kuajak Dini menuju kamarku.
            Kamarku masih seperti lima tahun lalu. Sebuah dipan sederhana, sebuah meja kursi, lemari pakaian berkaca, dan rak buku yang mengisi kamar cukup luas itu. Di desa, kamar-kamar rumah memang rata-rata berukuran besar, sehingga sangat memungkinkan untuk dimasuki berbagai perabot.
“Wah, Subhanallah Nan luas bener kamarmu,” kata Dini surprise,”Ini mah dua kali kamar kita di Yogya.”
Ketukan halus di pintu menghentikan percakapan kami, lebih tepatnya komentar Dini tentang kamarku. Aku segera membukakan pintu, wajah Lek Atun muncul dengan senyum khasnya, “Tehnya sudah aku taruh dimeja makan, sebaiknya kalian minum dulu, habis itu mandi biar segar. Wahyu  pasti kangen dengan segarnya air kampung kita kan?”
Aku mengangguk dengan segenap perasaan membuncah di dadaku. Ya, benar. Aku benar-benar kangen dengan semua yang telah menyatu dengan jiwaku, yang telah membalut segala perasaan hatiku hingga aku menjadi sosok seperti ini. Sosok yang sebenarnya tak pernah aku inginkan.
Udara sore terasa lebih segar setelah kami mandi, tapi aku merasa ada yang kurang. Dimana ibu? Dari aku datang hingga aku telah beberapa jam menikmati seluruh isi rumah dan sekitarnya, aku belum bertemu dengan wanita yang di dasar hatiku, aku begitu ingin memeluknya, menciumnya, bersimpuh di kakinya, dan memohon ampunannya. Hingga apa yang ingin kutahu jawabnya, terucap dari bibir lek atun yang bergetar. “Ibumu sekarang dirawat di rumah sakit nduk, sudah satu minggu ini, kami ingin memberimu kabar, tapi kami ndak tahu kemana menghubungimu.”kata Lek Atun sambil menatapku dengan seribu makna. Aku hanya mampu terguguk di bangku panjang samping rumah, Dini menyandarkan kepalaku di bahunya.

 Duhai ibu, berapa lama aku tak menatapmu, menyentuhmu, mendengar suara merdu dan sabarmu. Air mata ini tak mampu mengurai cerita lama kita. Masih adakah kesempatanku?

TO BE CONTINUED,,,,

2 komentar:

  1. Walaaa... ada Wates juga disebut ya... xi xi..
    ceritanya bikin penasaran, kok y mbrambangi membacanya.. kira2 apa selanjutnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang pasti semakin menarik ,,,don't miss it

      Hapus